Stasiun by Cynthia Febrina

image

Adinda putus dengan pacarnya. Kini tak ada lagi Rangga yang biasa mengantar jemput. Tiap pagi Adinda harus naik kereta dari Bogor ke kantornya di Jakarta. Harinya berawal dengan teriakan pedagang asongan, sampah yang bertebaran di peron, para penumpang yang berkeringat dan tergesa, bahkan aksi copet. Masa lalu pun kerap memberatkan langkah.

Ryan ‘anak kereta’ sejati, bersahabat dengan para pedagang kios di sepanjang peron. Bertahun-tahun dia pulang pergi Bogor-Jakarta naik kereta. Di balik beban kerja yang menyibukkan, ada kesepian yang sulit terobati, apalagi ketika seorang sahabat meninggal.

Tiap pagi mereka menunggu kereta di peron yang kadang berbeda. Tapi jalur yang sama memungkinkan langkah dan hati mereka bertautan Stasiun jadi saksinya.

Cerita yang dihadirkan Cynthia Febrina ini sederhana saja, sesederhana stasiun yang melatarbelakangi kisah ini. Dengan tagline yang manis: Dua Kisah Satu Jalur

Tentang Adinda yang terbiasa diantar jemput pacarnya– Rangga menggunakan mobil untuk berangkat kerja dari Bogor ke Jakarta, akhirnya terhenti setelah mereka putus berpacaran. Adinda kemudian mau tidak mau harus bepergian dengan menggunakan kereta– commuter line. Adinda menghindari kereta ekonomi karena sumpek, bau keringat dan ketidaknyamanan lainnya. Namun atas  saran temannya– Sasha, akhirnya dia mau juga mencoba naik kereta ekonomi. Karena menurut Sasha dengan naik kereta ekonomi dia akan lebih belajar mengenai hidup. Dalam satu kesempatan akhirnya takdir mempertemukan Adinda dengan Ryan. Karena Ryan tiap harinya berangkat kerja menggunakan kereta ekonomi.

Kisah-kisahnya mengalir secara beraturan dan bergantian antara Adinda dan Ryan. Namun saya lebih menikmati setiap fragmen yang menceritakan tentang Adinda.
Buku ini juga diselipkan ilustrasi yang keren di setiap akhir bab.

image

Ini kutipan yang saya suka, sebagai pembenaran juga karena saya masih sendiri karena belum tega ninggalin mama sendiri. Lupakan curhat colongan ini 😀 😀

Saya bukannya tidak bosan sendirian. Saya bukannya tidak mau mencari perempuan. Laki-laki mana yang bisa hidup tanpa cinta? Tapi saya tidak tega meninggalkan Ibu. Bukankah menikah artinya saya punya kehidupan baru? Saya tidak mau Ibu kesepian. (Hal. 20)

Tiap saya mau menutup review pasti kebingungan mau menulis apa. Yang jelas ceritanya runtut dan jelas. Cover buku dan ilustrasi-ilustrasinya pun bagus. Dan tiap kali beli buku terbitan plotpoint pasti tidak pernah menyesal, karena pembatas bukunya pun lucu.

image

Keterangan Buku
Judul: Stasiun
Penulis: Cynthia Febrina
Penyunting:  Gina S Noer, Ninus D Andar nuswari
Ilustrasi sampul: Diani Apsari
Pemeriksa aksara: Ridho Wijaya
Penata aksara: Kuswanto
Desain: Teguh Pandirian
Ilustrasi: Matahari Indonesia
Penerbit: PlotPoint Publishing

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s