ACOMM dan Deadpool

Udah lama juga ga nulis. Maklum lagi sibuk sama kerjaan. Sekali pas pengen nulis malah males. Nulis review beberapa buku yang sudah dibaca pun malah ditunda mulu ☺

Senin kemarin kan gak kerja karna izin bikin SIM, padahal bikinnya dari hari Jumat loh, berhubung kata pak polisinya selesai Senin, ya sekalian aja izin ga masuk kerja. Ya abis kalo bela belain kerja yang ada ntar malah kena sial pas kebetulan ada razia. Maklum saja berhubung alamat KTP dan alamat kantor beda jarak 100 km lebih. Pengen juga bikin SIM di kota yang sealamat kantor. Tapi takutnya belum online, maklum namanya juga kota kecil.

Ehh ini malah curhat ya hehe. Mumpung libur ga ngantor makanya sehabis ambil SIM, langsung aja ke mall ibukota yang berjarak 40km dari rumah. Di sini udah biasa perjuangan mau nonton aja mesti berangkat jauh jauh. Jadi kadang suka ngiri kalo di Jakarta atau kota besar lainnya yang walaupun mall kecil udah ada bioskopnya. Dan murah pula. Masa di Jakarta aja masih ada tiket bioskop 20ribuan. Kalo di sini paling murah hari Senin itupun 40ribu ( iya, saya anaknya emang perhitungan 😆 )

Nih film yang saya tonton kemarin A Copy of My Mind trus Deadpool.

image

Bahas film A Copy of My Mind dulu, ya.
Kata orang orang di twitter sih filmnya bagus. Atau orang orang cuma pengen caper aja sama Joko Anwar sang sutradaranya, biar dirituit gitu hehe. Makanya bela belain nonton sendiri, maklum aja temen paling anti nonton film Indonesia, apalagi film film yang idealis atau anti mainstream. Sedih, karna film Siti ( juara di FFI ) gak masuk layar Banjarmasin.

Ini aja pas masuk studio cuma bertiga sama saya. Sampai film berakhir yang nonton cuma 12 orang.
Ceritanya lumayan menarik. Tentang pertemuan Sari ( Tara Basro ) yang merupakan pekerja salon kecantikan murah meriah di Yelo Salon dengan Alek ( Chico Jericho ) sang penerjemah dvd bajakan. Sari yang langganan beli dvd bajakan protes ke Alek karna dvd yang diterjemahin oleh Alek ngaco.

Singkat cerita Sari dan Alek berpacaran. Dan Sari kemudian pindah kerja ke salon yang lebih elit dan berkelas. Dalam masa magang, Sari ditugasi oleh manajernya untuk memberikan layanan facial ke ibu Mirna di penjara, tepatnya penjara dengan fasilitas mewah. Lengkap dengan televisi dan berbagai dvd. Sari kemudian mencuri salah satu dvd yang dimiliki oleh ibu Mirna. Nah dari sini mulai timbul masalah demi masalah. Detilnya gak perlu diceritain di sini. Ntar ditimpuk sama yang belum nonton. Hehe.

Yang jadi perhatian saya di sini adalah cara pengambilan gambarnya. Kadang kameranya terlihat goyang goyang, sudut sudut yang diambil pun kadang bergerak liar. Sengaja atau tidaknya saya gak tau, tapi lumayan bikin mata letih. Endingnya pun dibiarkan rada ngambang.
Menariknya adalah di sini kita akan melihat persetubuhan Sari dan Alek yang lumayan sering. Sensual. Nakal. Dan penuh keringat. Tara Basro sih sukses bikin saya ikut berkeringat.
Berkeringat saja gak cukup untuk bilang film ini bagus. Bagusnya karna ide cerita beda dengan film kebanyakan. Tapi setelah nonton rada nyesel juga. Sayang uangnya, karna tidak sebagus yang saya harapkan.

Apalagi kalo dibandingin dengan film Deadpool.
Wuihhh. Dari menit awal sampai ke menit terakhir menurut saya ini filmnya bagus bagus dan bagus banget.
Lucunya dapet banget. Tengilnya. Ceritanya. Semuanya komplit.
Dan saya bakalan bilang kalo Deadpool ini adalah film superhero paling favorit yang pernah dibikin Marvel.
Yang belum nonton bakalan rugi banget. Sumpah. Ini film sukses bikin saya dan penonton lain ikut bertepuk tangan saking gemesnya. Bad ass 😍

Iklan

Maraton

Jadi minggu lalu tepatnya 28 Juni saya dan teman akhirnya nonton Jurassic World juga.
Gimana tanggapan saya?
Sumpah ini film keren banget, jadi pengin jalan jalan dan bertualang di Isla Nuslar juga, haha. Rugi banget kalo kemarin gak nonton.

Trus, setengah jam setelah film Jurassic World selesai, kami pun melanjutkan nonton Terminator Genisys. Film ini pun seru, menegangkan sekaligus bikin bingung juga. Kebolak balik, maju mundur tapi asik 😀

image

Jarang jarang banget maraton nonton gini, tapi terasa sayang sudah menempuh jarak 30km dari rumah kalau cuma nonton satu film, apalagi di bulan puasa gini. Suka males kalo pergi ke sini. Yah sekalian aja sambil nunggu beduk magrib dan buka bersama teman.

image

Cinderella

image

Woohoo. Senin yang membahagiakan karna akhirnya bisa juga nonton film Cinderella. Gak perlu antri karena filmnya sudah semingguan lebih tayang.

image

Saat ini siapa sih yang gak kenal dengan Cinderella. Banyak buku bahkan berbagai film telah diadaptasi dari dongeng karya Charles Perrault ini.
Begitu pun dengan film Cinderella keluaran Walt Disney tahun 2015 yang disutradai oleh Kenneth Branagah. Skenarionya ditulis oleh Chris Weitz. Sedangkan produsernya adalah David Barron, Simon Kinberg dan Allison Searmur.

Ella hidup berbahagia bersama ayah dan ibunya di sebuah rumah mewah beserta dengan pelayan rumah tangga. Setelah kematian ibunya, akhirnya ayahnya menikah dengan janda– Lady Tremaine yang memiliki dua orang anak, Anastasia dan Drisella. Kemudian ayahnya pun meninggal dalam suatu perjalanan bisnis. Sejak kematian ayahnya, Ella diperlakukan dengan jahat oleh ibu tiri dan dua saudari tirinya. Bahkan dia harus rela tidur di loteng. Para pelayan juga dipecat dengan alasan penghematan. Segala urusan rumah tangga akhirnya dikerjakan oleh Ella sendiri. Nama Ella pun diganti dengan Cinderella oleh ibu tiri dan saudari tirinya. Namun Ella selalu berpegang teguh pada pesan almarhum ibunya: ‘have couraged and be kind– milikilah keberanian dan hati yang baik.’ Sehingga ia tidak pernah jahat pada siapa pun, bahkan sangat baik pada angsa dan keempat teman tikusnya.
Pertemuan pertama Ella dengan Pangeran ‘Kit’ Tampan terjadi di hutan, sewaktu Kit berburu rusa dengan para pengawal kerajaan. Kebaikan hati dan kecantikan Ella langsung memesona pangeran. Setelah pertemuan itu akhirnya pangeran mengadakan pesta dansa sekaligus mencari calon istri buatnya. Karena kebaikan Peri Pelindung, akhirnya Ella bisa datang ke pesta, bertemu dan berdansa dengan pangeran Kit, sampai akhirnya sepatu kacanya tertinggal di tangga istana.

image
sumber: http://www.timur-angin.com

Bagi yang sudah tau ceritanya hampir tidak ada kejutan di film ini. Pemilihan casting kemudian menjadi kunci utama. Cinderella diperankan dengan apik oleh Lily James. Cantik, lugu dan menggemaskan. Padahal peran ini sempat ditawarkan pada Emma Watson, karena ketidaksepakatan akhirnya batal. Sukurlah, karena saya sudah jatuh hati pada Lily James dari pertama kemunculannya di film ini. Richard Madden dengan mata biru terangnya sangat cocok memerankan pangeran Kit. Para penonton serial Games of Throne pastinya sudah tidak asing lagi dengan karakter Rob Stark yang diperankannya.
Namun karakter yang paling menonjol adalah pemilihan Cate Blanchett sebagai ibu tiri Ella yang jahat. Cate sangat paham dalam menjiwai peran yang didapatnya. Dari gaya bertutur, mimik dan gestur tubuhnya. Dua saudara tiri– Anastasia dan Drisela yang diperankan oleh Holliday Grainger dan Sophie McShera pun tampak begitu menyebalkan sekaligus menggelikan. Jangan lupakan pula Peri Pelindung yang diperankan oleh Helena Bonham Carter.

Soundtrack dan audio di film ini sangat memanjakan telinga. Visualnya pun begitu memanjakan mata. Sampai saat menulis ini pun saya masih terbayang keindahan gaun berwarna biru berpotongan simpel yang dipakai Cinderella. Dan juga sepatu kacanya yang berhiaskan kristal Swarovsky.

Pesan penting dari film ini adalah tentang ‘penerimaan apa adanya’.
Bahkan dengan ‘keberanian dan memiliki hati yang baik’ akhirnya Cinderella dan Pangeran Kit menemukan cinta sejatinya. And they live happily ever after..

sumber poster dan bahan tulisan: wikipedia